Tanah Karo Simalem

Tanah Karo Simalem

Taneh Karo Simalem adalah sebutan untuk wilayah-wilayah adat etnis Karo, atau dengan kata lain merupakan wilayah domisili asli, kekuasaan (penteken(bentukan) ataupun rampasan), dan tanah ulayat dari masyarakat etnis Karo. Wilayahnya mencakupi pesisir pantai timur Pulau Sumatera ataupun eks kresidenan Sumatera Timur, serta dataran tinggi Karo di pegunungan bukit barisan di bagian barat daya dan utara Pulau Sumatera.

Secara umum, wilayah Taneh Karo ini merupakan bekas-bekas wilayah dari Kerajaan Aroe (Haru : Karo Tua) yang jika ditarik garis vertikal – horizontal, meliputi Kuta Raja (Sekarang: Banda Aceh) hingga Sungai Siak di pinggiran Kota Pekan Baru, Riau Sekarang; dan dari Singkil hingga Teluk Aru di Langkat. Saat ini umum dikenal dalam dalam percakapan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan HANYA Kabupaten Karo yang berada di dataran tinggi pegunungan bukit barisan pulau Sumatera. Padahal, pengertian Taneh Karo sebelumnya jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi cakupan wilayah seperti disebut diatas.

Pada masa penataan dan pembagian wilayah masa kolonial Belanda (Residentie Simaloengoen end Karolanden) dan pada masa memasuki bentuk negara NKRI, maka wilayah-wilayah Taneh Karo itu semakin menyempit dan bahkan beberapa wilayah menjadi kabur dan menghilang. Dibawah ini adalah wailayah Taneh Karo yang masih tersisa dan teridentifikasi sesuai dengan tradisi, kepercayaan, serta hasil rekomendasi dari Kongres Budaya Karo, pada tanggal 03 Desember 1995 di Berastagi.

1. Kabupaten Karo
2. Kota Medan
3. Kota Binjai
4. Kabupaten Deli Serdang
5. Sebagian besar wilayah Kabupaten Serdang Bedagai
6. Kabupaten Langkat
7. Kabupaten Dairi
– Kec. Taneh Pinem
– Kec. Tiga Lingga
– Kec. Gunung Sitember
8. Kabupaten Aceh Tenggara
– Kec. Lau Sigala-gala
– Kec. Simpang Simadam
9. Beberapa wilayah di Kabupaten Simalungun, dll.

Dari gambaran luas daerahnya diatas, domisili masyarakat Karo terbagi atas beberapa kelompok yang berdomisili di daerah pantai dan hidup berdampingan dengan penduduk Melayu, dan secara bertahap kedua suku tersebut saling berbaur dan berakulturasi antara sesamanya.

Dari orang-orang Karo yang tersebar dan berakulturasi dengan suku-suku lain tersebutlah, yang menyebabkan terjadinya julukan orang karo atas dasar wilayah komunitasnya seperti : Karo Kenjulu, Karo Teluh Dereng, Karo Singalor Lau, Karo Baluren, Karo Langkat, Karo Timur dan Karo Dusun.

  1. Karo Kenjulu adalah sebahagian besar wilayah Kabupaten Karo, yakni kecamatan Kabanjahe, Berastagi, Tiga Panah, Barusjahe, Simpang Empat, Payung.
  2. Karo Teruh Deleng adalah kecamatan Kuta Buloh, Kec. Payung, kec. Lau Baleng dan kec. Mardinding.
  3. Karo Singalor Lau meliputi kecamatan Tiga Binanga, kecamatan Juhar, dan kecamatan Munte.
  4. Karo Baluren adalah kecamatan Tanah Pinem dan kecamatan Tigalingga. Kecamatan Tanah Pinem sudah merupakan bagian dari kabupaten Dairi.
  5. Karo Langkat adalah masyarakat Karo yang tinggal di Kabupaten Langkat dan kabupaten Binjei yang meliputi kecamatan-kecamatan: Padang Tualang, Bahorok, Salapian, Kwala, Selesai, Sungai Bingei, Binjei dan Stabat.
  6. Karo Timur adalah yang tinggal di wilayah kecamatan Lubuk Pakam, kecamatan Bangun Purba, kecamatan Galang, kecamatan Gunung Meriah, kecamatan Dolok Silau dan kecamatan Silimakuta. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah kabupaten Deli Serdang dan kabupaten Simalungun.
  7. Karo Dusun adalah kecamatan Sibolangit, Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Namorambe, Kecamatan Sunggal, kecamatan Kutalimbaru, kecamatan STM-Hilir, Kecamatan STM-Hulu, Kecamatan Hamparan Perak, Kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Biru-biru.

Selain wilayah-wilayah tempat tinggal yang telah dijelaskan di atas, masih ada wilayah yang cukup penting yang menjadi tempat tinggal atau domisili orang Karo, yaitu wilayah kota Medan (ibukota propinsi Sumatera Utara). Di sepanjang jalan dari Kabanjahe/Kabupaten Karo menuju kota Medan juga terdapat beberapa desa dan semi kota (sub-urban) yang juga menjadi domisili orang Karo seperti: kota Berastagi, desa Bandarbaru, desa Sibolangit, desa Sembahe, dan Pancurbatu (kecuali Berastagi, semua desa tersebut masuk dalam wilayah kabupaten Deliserdang).

Memasuki wilayah kota Medan, terdapat lagi beberapa wilayah desa, seperti: desa Lau Cih, Kelurahan Simpang Selayang, Simpang Kuala dan Padang Bulan yang sebagian besar penduduknya adalah orang Karo. Penduduk di wilayah tersebut, walaupun telah lama tinggal secara menetap, namun secara kekerabatan masih mempunyai hubungan dengan masyarakat Karo yang tinggal di wilayah kabupaten Karo.

 

Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3

Bagikan ke Sosial Anda